Rabu, 15 Januari 2014

" Hari itu "

Beberapa hari yang lalu, saat itu matahari sedang istirahat sehingga hujan datang menggantikan. Hampir seharian hari itu hujan turun tanpa hadirnya matahari. Hari itu merupakan hari yang paling enak untuk dirumah tidur dengan nyaman. Tapi kenyataannya gue harus pergi karna ada acara keluarga. Dengan keadaan hujan dan becek. Iya tentu saja dengan sedikit keterpaksaan, tapi..ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat gue. Dan salah satu pelajarannya adalah ikhlas, iya saat diri gue ingin istirahat dirumah bersama dengan makan mie ayam. Gue harus ikhlas ikut kedua orangtua gue dan adik adik gue yang nggak dimana mana pasti berantem.
Kita berangkat naik angkot *alangkah indahnya kalo naik mobil pribadi* salah satu hal yang paling bikin sebel adalah gue harus kecipratan air ujan karena pintu angkot gapernah ketutup. Kalo ketetutup mana ada penumpang yang mau masuk. Nggak lama kemudian ada seorang ibu ibu yang naik angkot. Sepertinya dia naik motor dan karna hujan dia naik angkot. Saat dilampu merah teryata disana tidak hujan besar. Dan ibu ibu itu berkata “ loh kok disini nggak hujan besar yaa, padahalkan disana hujan besar dan udah hampir setengah jam saya nunggu hujan berenti “. Dari situ gue belajar bahwa kita sudah diajarkan bersabar untuk menunggu, bahkan hal yang nggak pasti. Kita gapernah tau kan kapan hujan akan berenti, tapi kita tetep sabar buat nunggu. Dan saat sudah terlalu lama buat nunggu ibu tadi diberikan dua pilihan harus menunggu atau pergi dengan naik angkot. Dan dia memilih dengan naik angkot. Begitupun dengan hidup, saat sudah lama menunggu dengan kesabaran dia akan dihadapkan pada pilihan tetap menunggu atau pergi dengan pilihan lain.
Itu pelajaran selanjutnya yang gue dapet. Setelah sampai di halte lampu merah, gue turun dari angkot. Dan gue harus nunggu mobil lagi, lagi lagi gue mengeluh dalam hati andai naik mobil pribadi. Gue pasti nggak akan sama seperti ibu tadi yang harus sabar nunggu mobil yang gue sendiri gatau kapan datengnya. Tapi disisi lain gue sadar bahwa ibu itu mampu untuk nunggu setengah jam tanpa ngeluh masa gue yang baru beberapa menit aja udah ngeluh. Saat gue nunggu mobil, ibu gue sempet kenalan sama seorang ibu paruh baya dengan kedua cucunya, dia ingin pergi ke bekasi dan lagi nunggu mobil yang ada ya setiap sejam sekali. Dan dia udah nunggu dihalte lebih dari setengah jam. Saat itu juga gue bersyukur naik angkutan umum. Karena saat gue naik mobil pribadi mungkin gue nggak akan ketemu nenek paruh baya yang masih semangat ini. Saat itu juga ada hal yang membuat hati gue terenyuh, tentang perjuangan seorang ayah sekaligus suami. Mungkin, setiap orang sering melihatnya dipinggir jalan. Itu adalah mereka yang sedang memasang kabel yang panjang atau pipa yang besar di dalam tanah. Saat itu saat hujan sedang derasnya bapak itu turun kedalam tanah dengan pakainan kotor dan diguyur hujan. Dia bukan berasal dari daerah sini dia dari cirebon, bapak ku bertanya padanya. Itu bukan tanpa resiko dia bisa saja terkena sakit karena baju yang dia gunakan basah dan diapun harus terguyur hujan. Tapi dia tetap melakukannya, demi siapa? Tentu saja demi anak dan istrinya demi raja dunia yaitu uang. Iya uang yang akan dia gunakan untuk makan keluargannya, dan sekolah anak anaknya. Dari situ gue belajar bahwa seorang ayah rela berkorban apapun demi keluargannya. Bahwa setiap pekerjaan mengandung resiko. Seorang ayah yang memasuki goa yang terdapat batu kapur atau tambang emas rela mengorbankan dirinya berada dalam goa yang didalamnya untuk bernafas saja sulit, yang sewaktu waktu bisa rubuh dan dia akan tertimbun demi keluargannya.
Dan sudah hampir sepuluh menit gue nunggu mobil yang belum juga datang. Yang bisa gue lakuin saat nunggu adalah memperhatikan setiap kendaraan yang lewat. Setiap wajah yang berbeda. Ada seorang pengendara yang melanggar lalu lintas, menerobos lalu lintas dan akhirnya hampir saja pengendara itu tertabak oleh angkot. Saat itu mungkin tidak ada polisi sehingga pengendara itu berani menerobos lalu lintas. Itulah mengapa dinegara ini banyak kecelakaan lalu lintas, banyak terjadi kemacetan karena sebagian orang mematuhi peraturan hanya karena dia takut pada polisi bukan karena kesadaran sendiri. Padahal saat kita melanggar lalu lintas yang dirugikan bukan hanya diri sendiri tapi orang lain. Seperti kejadian pengendara yang menerobos lalu lintas itu, jika terjadi kecelakaan bukan hanya dirinya yang akan celaka tapi juga supir angkot dan penumpang angkot didalamnya. Dan banyak orang orang yang melanggar peraturan karena terburu buru. Seorang siswa terburu buru karna takut dihukum oleh gurunya, seorang pegawai buru buru karena takut terlambat dan kena omel bosnya. Semua orang terburu buru, semua orang beranggapan bahwa dirinya selalu gundah gulana saat dijalan dan akhirnya mereka mengikuti segla cara agar cepat sampai ketempat tujuan walau melanggar peraturan sekalipun. Bukankah kita sudah diajarkan banyak bersabar? Sabar saat menunggu hujan berenti, sabar saat menunggu angkutan umum, dan saatnya untuk sabar dalam keadaan macet.
Sudah hampir dua puluh menit gue nunggu mobil, dengan menikmati setiap tetesan air yang turun dari langit yang luas. Dan memperhatikan setiap kejadian disekitar kita yang saat ini tidak pernah kita sadari bahwa ada beribu pelajaran didalamnya. Dan akhirnya mobil yang ditunggupun datang. Hari itu masih hujan rintik rintik. Ada satu pelajaran yang sudah sering kita lakukan namun tidak pernah kita sadari. Saat diangkutan umum, saat semua bangku sudah penuh pelajaran itu adalah tentang kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan, kita diuji karena kita harus berdiri disepanjang perjalanan.

Setelah melihat segala hal yang terjadi hari itu, kesimpulannya adalah gue mendapatkan apa yang mungkin tidak didapatkan oleh mereka yang naik mobil pribadi. Mungkin mereka bisa duduk manis dengan nyaman untuk pergi jalan jalan. Gaperlu keujanan dan kecipratan air kayak gue atau mereka yang naik angkutan umum. Tapi mereka yang naik mobil pribadi tidak akan bisa merasakan nikmatnya menunggu dengan kesabaran, tidak akan bertemu dengan orang orang berwajah baru yang ramah seperti ibu paruh baya, tidak akan melihat pengendara yang berani melawan lalu lintas, tidak akan merasakan indahnya bersosialisasi dan pelajaran lainnya yang tidak akan didapatkan disekolah.

Untuk itu, mulai sekarang bukalah mata untuk lebih sering melihat setiap sisi dunia yang belum diketahui, bukalah telinga untuk mendengar lebih banyak lagi isi dari sebuah kehidupan dan cerita yang begitu pelan tak terdengar, dan bukalah hati untuk bisa lebih merasakan setiap hal dari sebuah kehidupan dengan penuh cinta yang tak terkalahkan.

‘ Novalda pertiwi ‘

Tidak ada komentar:

Posting Komentar