Kamis, 29 Mei 2014

Tentang Perpisahan



"Ketika daun yang sudah kering jatuh ketanah, ketika lilin yang semakin lama semakin habis.
Ketika matahari berganti bulan, siang berganti malam, hadir berganti hilang.
Dan ketika pertemuan menjadi sebuah perpisahan"


          Sepenggal uangkapan yang saya sampaikan. Sudah menjelaskan bahwa di kehidupan semua akan berganti. Pohon yang awalnya selalu diinjak saat ini tumbuh menjadi pohon yang besar. Yang jangnkan untuk menginjaknya kembali untuk mengambil satu daunnya saja seseorang harus berjuang. 
 
          Itu semua karna waktu. Waktu sudah berganti kesedihan dan kesabaran menghasilkan hal yang mengesankan. Waktu membuat segalanya berubah, waktu mengganti siang yang penuh cahaya menjadi malam yang sangat gelap. Waktu mengubah tawa yang ceria menjadi tangis yang sangat dalam. Waktu mengubah perasaaan sayang menjadi benci yang luar biasa, atau mungkin sebaliknya. Waktu juga yang berperan mengubah sebuah pertemuan menjadi perpisahan. Mengubah suatu kebiasaan menjadi kenangan. 

KARNA DISETIAP PERTEMUAN PASTI ADA PERPISAHAN. JIKA TIDAK INGIN BERPISAH JANGAN PERNAH BERTEMU.

          Iya perpisahan, hal yang mungkin saat ini sedang banyak orang alami. Terutama para pelajar SMA yang akan meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. perpisahan memang ditakutkan oleh semua orang. Tidak memandang muda atau tua, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sakit atau senang. Perpisahan dirasakan oleh semua orang dan itu PASTI terjadi.

         
          Perpisahan penuh tangis dan kenangan. Tangis karna kemungkinan kita tidak akan bertemu lagi, dan kenangan yang dahulu adalah sebuah kebiasaan. 

          Tawa renyah yang selalu ada didalam kelas kini sudah tidak terdengar lagi, kemarahan yang membara yang membuat emosi setiap orang memuncak kini hanya menjadi bisu. Cerita cerita hati yang dulu menjadi santapan pagi kepada teman sebnagku kini hanya tinggal dikepala, sikap konyol yang selalu ada disetiap hari kini hanya menjadi tawa sendiri bukan lagi bersama, tugas tugas yang membuat jam tidur berkurang kini hanya menjadi coretan di kertas. Perdebatan yang menjadi setiap orang harus menerima kekalahannya saat ini hanya menjadi suara sumbang tak terdengarkan, tulisan tulisan penuh ilmu dan arti dipapan tulis kini  telah hilang hilang bersama waktu. Jika saat ini aku duduk ditempatku dulu menuntut ilmu, akan ku lihat teman sebangkuku datang dengan kekasihnya. Tak lama temanku yang lain datang dan kelas mulai terasa ramai, sampai akhirnya dia datang iya dia yang menjadi penyemangatku dia yang membuat hariku penuh warna. Tapi tak lama semuanya lenyap keramaian itu hilang dan dia juga hilang. Saat ini tinggal sepi, dan aku sadar bahwa kami sudah berpisah.

          Selamat tinggal kawan, kelulusan sudah kita dapatkan. Kehidupan yang sesungguhnya akan kita hadapi. Kita harus menjadi pohon yang besar, harus menjadi matahari yang bersinar, menjadi ombak laut yang hebat. Tapi tetap menjadi padi yang senantiasa merunduk, tetap menjadi  hamba yang rendah hati dan senantiassa mencintai orang tua. 

          Terimakasih untuk semuanya untuk tawa, tangis, canda, marah, perdebatan, keegoisan, cinta dan ketulusan. Terimakasih untuk semuanya, pasti akan merindukan sosok seperti kalian merindukan kenangan kita. Dan semoga saat kita bertemu kita semua sukses harus sukses!!

          Spesial untuk dia, terimakasih dan selamat tinggal. Mungkin kita tidak bertemu lagi atau akan terus bertemu yang pasti aku harap kamu merindukanku suatu hari nanti yaa :D

                                     
                   21 mei 2014  ollallaa...
         

Senin, 21 April 2014

Secuil tentang Perpisahan



Gerhana ini menyisihkan perpisahan
Meninggalkan kenangan berbekas diantartika
Saling melambaikan dan berpurapura
Memasang senyum palsu melepaskan

          Ucapan terindah dan tersakit yang diucapkan
          Seolah memastikan matahari tak akan bertemu
          Bertegur sapa dengan gelapnya malam
          Atau sekedar saling melihat

Namun keyakinan berharap kepada takdir
Akan terjadinya sebuah gerhana
Dengan frekuensi yang lebih lama
Agar tak ada rindu yang tersumbat

                  

Pengamen Jalanan

                   Kepada matahari yang slalu bersinar
                   Di persimpangan jalan mereka berharap
                   Suara sumbang mereka persembahkan
                   Demi koin tak bertuan

Biru dan merah menjadi saksi
Setiap hantangan tangan pemurka
Hanya karna koin tak berlipat
Mereka mengais tulang pembuangan

          Di tengah mewahnya kereta pribadi
          Di tengah rapinya pakaian berdasi
          Mereka berjalan tanpa alas kaki
          Dengan pakaian tak berganti
         
                                      Mereka tak mengarapkan...
                                      Istana megah dengan kereta mewah
                                      Mereka tak mengharapkan...
                                      Makan enak dan berlian berganti
         
          Hanya selembar kertas lusuh bernilai didompetmu
          Yang kau beri saat suaranya terdengar yang mereka harapkan
          Mereka bukan malas untuk bekerja
          Tapi mereka berdasi yang mengabaikan
                  
                                                                   -Kepadamu Pengamen Jalanan-

Untukmu Ibu-



                                Kau lihatkan padaku indahnya pelangi
                                Kau ajarkan padaku tulusnya cinta
                                Kau lihatkan padaku murninya kasih sayang
                                Kau berikanku ribuan berlian

Namun senyum itu...
Lebih indah dari pelangi yang kau berikan
Belaina itu...
Lebih dari ketulusan cinta yang slalu kau ajarkan
Dan kehadiranmu...
Lebih dari seluruh isi dunia ini
                               
                                Dulu...
                                Saat kakiku belum mampu menginjak bumi
                                Kau bawa aku kemanapun kau pergi
                Dulu...
                Saat aku belum mampu tuk berkata
                Kau tak pernah lelah mengajakku berbicara
                                Dulu...
                                Saat aku berbuat nakal
                                Kau slalu memarahiku dengan senyum dan kasih sayang
                Dulu...
                Saat aku menangis
                Kau slalu merangkulku dengan cinta



Ibu...
Kini aku telah dewasa
Kini aku sudah bisa berjalan
Kini aku sudah mampu berkata kata

                Ibu...
                Matamu masih tetap penuh cinta
                Perjuangan dan pengorbananmu masih terus mengalir
Ibu...
                Saat aku merasa lelah
Kau selalu menjadi sandaran
                Saat aku jatuh
Kau selalu mengulurkan tangan
                Saat aku menangis
Kau masih merangkulku seperti dulu
                Dan saat aku putus asa
Kau slalu menjadi alasan untuk ku terus berusaha







-          Untukmu Ibu -

Minggu, 09 Maret 2014

Sajak Ku ^



Sajak Ku
Sajak ku masih menggambarkan dirimu
Ditemani rindu dan sepi setiap baitnya
Sajaku masih menunggu balasan darimu
Meski kau tak pernah menyadarinya

                Sajak ku masih mampu bertahan ditepi hidupnya
                Meski dirimu lebih sering melihat sajaknya
                Sajak ku lebih awal memperhatikanmu
                Meski ia hanya menuliskannya pada selembar kertas

Kertas sajaku penuh dengan ceritamu
Coretan kerinduan dan kepedulian sajaku
Hanya sajak ku terlalu takut untuk mengungkapkannya
Sajaknya lebih pantas untuk kau apresiasikan

                                Percayalah sajak ku tak pernah main main dalam baitnya
                                Percayalah sajak ku tak pernah menipu setiap tulisannya
                                Karna sajak ku diciptakan untuk menyampaikan
                                Menyampaikan setiap perasaan pengarangnya

Tapi sajaknya sudah menjadi bagian hidupmu
Sajak ku hanya menjadi debu disudut hidupmu
Akan hilang saat kau meniupnya
Akan sesak saat kau menghirupnya
Tapi sajak ku lebih pantas kau pertahankan, percayalah-