Sabtu, 21 Juni 2014

Seadil Itukah perasaanmu?



Seadil itukah perasanmu?
Memberi satu senyum sama seperti senyum pada lainnya
Menanam satu harapan pada harapan lainnya
Tak terbesitkah satu nama yang ingin kau bahagiakan
Tak terlintaskan satu rindu yang hanya ingin kau sampaikan
Tak takutkah sikapmu meyakiti seseorang
Tak lelahkah kau slalu berpura pura ramah dan menyenangkan

Dirimu...
Mungkin idaman mereka atau mungkin aku?
Tapi diriku tak pernah ingin jadi bagian mereka sekalipun mereka istimewa
Aku lebih memilih menjadi biasa tapi satu satunya
Aku lebih memilih menjadi yang kau acuhkan tapi pasti
Tapi pilihanku harus kau pantaskan dengan pilihanmu
Aku ingin semuanya berakhir apapun akhirnya

Aku ingin....
Kau mengakhiri semuanya apapun yang akan kau akhiri

Tapi....
Apa aku siap saat kau justru jatuh hati pada yang lain
Apa aku siap karna semunya berakhir sesuai kenyataan tapi bukan harapan
Apa aku siap mendapatkan sikap acuhmu lagi
Apa aku siap??

Aku akan siap dan pasti siap
Aku pernah menjalani ini melupakan seseorang
Mungkin tak sama tapi serupa

Sekarang untukmu...
Apa kamu siap melepaskan semuanya
Apa kamu siap menunjuk satu yang menurutmu terbaik
Kamu laki laki seorang yang tegas yang berani mengambil keputusan
Cepat atau lambat kau akan mengakhiri semuanya
Sekarang ataupun nanti, percayalah
Percayalah secepatnya itu lebih baik
Sebelum ada yang terluka (lagi)

Untukmu yang aku harap cepat mengakhiri~

Kamis, 19 Juni 2014

Ini aku



Penantian ini bukan tanpa alasan
Penantian ini bukan waktu yang sebentar,
Aku pernah benar benar mejatuhkan air mata karnamu
Aku pernah benar benar tertawa senang karna sikapmu
Aku pernah benar benar lari dari semua kenyataan
Aku pernah merasa sangat cemburu pada dirimu
Khawatir pada dirimu, rindu padamu dan menantimu
Aku pernah merasakan semuanya...

Aku pernah kau abaikan dengan amat sangat
Tapi akupun pernah kau sambut baik
Aku pernah putus asa dan menyesal karnamu
Tapi akupun pernah bersyukur dan semangat karnamu
Aku pernah merasa sangat benci dan tak ingin bertemu kau lagi
Tapi akupun pernah sangat suka dan berharap kita akan terus bertemu
Kau pernah menganggapku tidak ada
Tapi kaupun pernah melihat dan peduli padaku

Aku memang tidak pernah mengetahui apa yang kau rasakan
Tapi setidaaknya kau tau bahwa semua perasaan pernah ku rasakan
Aku memang tidak pernah tau bagaimana dirimu
Tapi setidaaknya kau tau inilah diriku
Aku mungkin tidak tau bagaimana sikapmu dengan yang lain
Tapi aku tidak akan melakukan hal serupa pada siapapun
Tapi aku tidak akan merasakan ini dengan yang lain
Kalaupun aku merasakannya itu pasti karna dirimu....
Karna dirimu sudah terlalu lama buatku bertahan
Karna dirimu sudah terlalu lama mengabaikan
Karna dirimu sudah terlalu lama penuh keabu abuan

Jika kau pernah merasakannya
Ceritakan padaku bagaimana dirimu
Ceritakan padaku apa yang sudah kau rasakan
Ceritakan padaku pernahkan kau merasa senang saat namaku ada di pesan singkat  mu
Ceritakan padaku bagiaman sikapmu dengan yang lain

Agar aku tidak selalu seperti ini
Agar diriku tidak selalu merasa senang tapi waspada
Agar aku tidak merasa sedih tapi sebenarnya aku senang
Agar aku tidak merasa semuanya semu dan maya
Agar aku merasa kau tidak pernah sejahat pikiranku

Bukan maksudku menuntutmu
Bukan maksudku ingin tahu tentangmu
Aku hanya butuh sebuah jawaban dari pertayan yang membuatku muak
Aku hanya butuh.....dirimu menjawabnya
Bukan untuk memiliki hubungan denganmu
Bukan untuk memilikimu,
Sama sekali bukan...
Ini aku-
Novalda, 14 juni 2014

Kamis, 29 Mei 2014

Tentang Perpisahan



"Ketika daun yang sudah kering jatuh ketanah, ketika lilin yang semakin lama semakin habis.
Ketika matahari berganti bulan, siang berganti malam, hadir berganti hilang.
Dan ketika pertemuan menjadi sebuah perpisahan"


          Sepenggal uangkapan yang saya sampaikan. Sudah menjelaskan bahwa di kehidupan semua akan berganti. Pohon yang awalnya selalu diinjak saat ini tumbuh menjadi pohon yang besar. Yang jangnkan untuk menginjaknya kembali untuk mengambil satu daunnya saja seseorang harus berjuang. 
 
          Itu semua karna waktu. Waktu sudah berganti kesedihan dan kesabaran menghasilkan hal yang mengesankan. Waktu membuat segalanya berubah, waktu mengganti siang yang penuh cahaya menjadi malam yang sangat gelap. Waktu mengubah tawa yang ceria menjadi tangis yang sangat dalam. Waktu mengubah perasaaan sayang menjadi benci yang luar biasa, atau mungkin sebaliknya. Waktu juga yang berperan mengubah sebuah pertemuan menjadi perpisahan. Mengubah suatu kebiasaan menjadi kenangan. 

KARNA DISETIAP PERTEMUAN PASTI ADA PERPISAHAN. JIKA TIDAK INGIN BERPISAH JANGAN PERNAH BERTEMU.

          Iya perpisahan, hal yang mungkin saat ini sedang banyak orang alami. Terutama para pelajar SMA yang akan meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. perpisahan memang ditakutkan oleh semua orang. Tidak memandang muda atau tua, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, sakit atau senang. Perpisahan dirasakan oleh semua orang dan itu PASTI terjadi.

         
          Perpisahan penuh tangis dan kenangan. Tangis karna kemungkinan kita tidak akan bertemu lagi, dan kenangan yang dahulu adalah sebuah kebiasaan. 

          Tawa renyah yang selalu ada didalam kelas kini sudah tidak terdengar lagi, kemarahan yang membara yang membuat emosi setiap orang memuncak kini hanya menjadi bisu. Cerita cerita hati yang dulu menjadi santapan pagi kepada teman sebnagku kini hanya tinggal dikepala, sikap konyol yang selalu ada disetiap hari kini hanya menjadi tawa sendiri bukan lagi bersama, tugas tugas yang membuat jam tidur berkurang kini hanya menjadi coretan di kertas. Perdebatan yang menjadi setiap orang harus menerima kekalahannya saat ini hanya menjadi suara sumbang tak terdengarkan, tulisan tulisan penuh ilmu dan arti dipapan tulis kini  telah hilang hilang bersama waktu. Jika saat ini aku duduk ditempatku dulu menuntut ilmu, akan ku lihat teman sebangkuku datang dengan kekasihnya. Tak lama temanku yang lain datang dan kelas mulai terasa ramai, sampai akhirnya dia datang iya dia yang menjadi penyemangatku dia yang membuat hariku penuh warna. Tapi tak lama semuanya lenyap keramaian itu hilang dan dia juga hilang. Saat ini tinggal sepi, dan aku sadar bahwa kami sudah berpisah.

          Selamat tinggal kawan, kelulusan sudah kita dapatkan. Kehidupan yang sesungguhnya akan kita hadapi. Kita harus menjadi pohon yang besar, harus menjadi matahari yang bersinar, menjadi ombak laut yang hebat. Tapi tetap menjadi padi yang senantiasa merunduk, tetap menjadi  hamba yang rendah hati dan senantiassa mencintai orang tua. 

          Terimakasih untuk semuanya untuk tawa, tangis, canda, marah, perdebatan, keegoisan, cinta dan ketulusan. Terimakasih untuk semuanya, pasti akan merindukan sosok seperti kalian merindukan kenangan kita. Dan semoga saat kita bertemu kita semua sukses harus sukses!!

          Spesial untuk dia, terimakasih dan selamat tinggal. Mungkin kita tidak bertemu lagi atau akan terus bertemu yang pasti aku harap kamu merindukanku suatu hari nanti yaa :D

                                     
                   21 mei 2014  ollallaa...
         

Senin, 21 April 2014

Secuil tentang Perpisahan



Gerhana ini menyisihkan perpisahan
Meninggalkan kenangan berbekas diantartika
Saling melambaikan dan berpurapura
Memasang senyum palsu melepaskan

          Ucapan terindah dan tersakit yang diucapkan
          Seolah memastikan matahari tak akan bertemu
          Bertegur sapa dengan gelapnya malam
          Atau sekedar saling melihat

Namun keyakinan berharap kepada takdir
Akan terjadinya sebuah gerhana
Dengan frekuensi yang lebih lama
Agar tak ada rindu yang tersumbat

                  

Pengamen Jalanan

                   Kepada matahari yang slalu bersinar
                   Di persimpangan jalan mereka berharap
                   Suara sumbang mereka persembahkan
                   Demi koin tak bertuan

Biru dan merah menjadi saksi
Setiap hantangan tangan pemurka
Hanya karna koin tak berlipat
Mereka mengais tulang pembuangan

          Di tengah mewahnya kereta pribadi
          Di tengah rapinya pakaian berdasi
          Mereka berjalan tanpa alas kaki
          Dengan pakaian tak berganti
         
                                      Mereka tak mengarapkan...
                                      Istana megah dengan kereta mewah
                                      Mereka tak mengharapkan...
                                      Makan enak dan berlian berganti
         
          Hanya selembar kertas lusuh bernilai didompetmu
          Yang kau beri saat suaranya terdengar yang mereka harapkan
          Mereka bukan malas untuk bekerja
          Tapi mereka berdasi yang mengabaikan
                  
                                                                   -Kepadamu Pengamen Jalanan-