Beberapa hari
yang lalu, saat itu matahari sedang istirahat sehingga hujan datang
menggantikan. Hampir seharian hari itu hujan turun tanpa hadirnya matahari. Hari
itu merupakan hari yang paling enak untuk dirumah tidur dengan nyaman. Tapi kenyataannya
gue harus pergi karna ada acara keluarga. Dengan keadaan hujan dan becek. Iya tentu
saja dengan sedikit keterpaksaan, tapi..ada beberapa hal yang menjadi pelajaran
buat gue. Dan salah satu pelajarannya adalah ikhlas, iya saat diri gue ingin
istirahat dirumah bersama dengan makan mie ayam. Gue harus ikhlas ikut kedua
orangtua gue dan adik adik gue yang nggak dimana mana pasti berantem.
Kita berangkat
naik angkot *alangkah indahnya kalo naik mobil pribadi* salah satu hal yang
paling bikin sebel adalah gue harus kecipratan air ujan karena pintu angkot
gapernah ketutup. Kalo ketetutup mana ada penumpang yang mau masuk. Nggak lama
kemudian ada seorang ibu ibu yang naik angkot. Sepertinya dia naik motor dan
karna hujan dia naik angkot. Saat dilampu merah teryata disana tidak hujan
besar. Dan ibu ibu itu berkata “ loh kok disini nggak hujan besar yaa,
padahalkan disana hujan besar dan udah hampir setengah jam saya nunggu hujan
berenti “. Dari situ gue belajar bahwa kita sudah diajarkan bersabar untuk
menunggu, bahkan hal yang nggak pasti. Kita gapernah tau kan kapan hujan akan
berenti, tapi kita tetep sabar buat nunggu. Dan saat sudah terlalu lama buat
nunggu ibu tadi diberikan dua pilihan harus menunggu atau pergi dengan naik
angkot. Dan dia memilih dengan naik angkot. Begitupun dengan hidup, saat sudah
lama menunggu dengan kesabaran dia akan dihadapkan pada pilihan tetap menunggu
atau pergi dengan pilihan lain.
Itu pelajaran
selanjutnya yang gue dapet. Setelah sampai di halte lampu merah, gue turun dari
angkot. Dan gue harus nunggu mobil lagi, lagi lagi gue mengeluh dalam hati
andai naik mobil pribadi. Gue pasti nggak akan sama seperti ibu tadi yang harus
sabar nunggu mobil yang gue sendiri gatau kapan datengnya. Tapi disisi lain gue
sadar bahwa ibu itu mampu untuk nunggu setengah jam tanpa ngeluh masa gue yang
baru beberapa menit aja udah ngeluh. Saat gue nunggu mobil, ibu gue sempet
kenalan sama seorang ibu paruh baya dengan kedua cucunya, dia ingin pergi ke
bekasi dan lagi nunggu mobil yang ada ya setiap sejam sekali. Dan dia udah
nunggu dihalte lebih dari setengah jam. Saat itu juga gue bersyukur naik
angkutan umum. Karena saat gue naik mobil pribadi mungkin gue nggak akan ketemu
nenek paruh baya yang masih semangat ini. Saat itu juga ada hal yang membuat
hati gue terenyuh, tentang perjuangan seorang ayah sekaligus suami. Mungkin,
setiap orang sering melihatnya dipinggir jalan. Itu adalah mereka yang sedang
memasang kabel yang panjang atau pipa yang besar di dalam tanah. Saat itu saat
hujan sedang derasnya bapak itu turun kedalam tanah dengan pakainan kotor dan
diguyur hujan. Dia bukan berasal dari daerah sini dia dari cirebon, bapak ku
bertanya padanya. Itu bukan tanpa resiko dia bisa saja terkena sakit karena
baju yang dia gunakan basah dan diapun harus terguyur hujan. Tapi dia tetap
melakukannya, demi siapa? Tentu saja demi anak dan istrinya demi raja dunia
yaitu uang. Iya uang yang akan dia gunakan untuk makan keluargannya, dan
sekolah anak anaknya. Dari situ gue belajar bahwa seorang ayah rela berkorban
apapun demi keluargannya. Bahwa setiap pekerjaan mengandung resiko. Seorang ayah
yang memasuki goa yang terdapat batu kapur atau tambang emas rela mengorbankan
dirinya berada dalam goa yang didalamnya untuk bernafas saja sulit, yang
sewaktu waktu bisa rubuh dan dia akan tertimbun demi keluargannya.
Dan sudah
hampir sepuluh menit gue nunggu mobil yang belum juga datang. Yang bisa gue
lakuin saat nunggu adalah memperhatikan setiap kendaraan yang lewat. Setiap wajah
yang berbeda. Ada seorang pengendara yang melanggar lalu lintas, menerobos lalu
lintas dan akhirnya hampir saja pengendara itu tertabak oleh angkot. Saat itu
mungkin tidak ada polisi sehingga pengendara itu berani menerobos lalu lintas. Itulah
mengapa dinegara ini banyak kecelakaan lalu lintas, banyak terjadi kemacetan
karena sebagian orang mematuhi peraturan hanya karena dia takut pada polisi
bukan karena kesadaran sendiri. Padahal saat kita melanggar lalu lintas yang
dirugikan bukan hanya diri sendiri tapi orang lain. Seperti kejadian pengendara
yang menerobos lalu lintas itu, jika terjadi kecelakaan bukan hanya dirinya
yang akan celaka tapi juga supir angkot dan penumpang angkot didalamnya. Dan banyak
orang orang yang melanggar peraturan karena terburu buru. Seorang siswa terburu
buru karna takut dihukum oleh gurunya, seorang pegawai buru buru karena takut
terlambat dan kena omel bosnya. Semua orang terburu buru, semua orang
beranggapan bahwa dirinya selalu gundah gulana saat dijalan dan akhirnya mereka
mengikuti segla cara agar cepat sampai ketempat tujuan walau melanggar
peraturan sekalipun. Bukankah kita sudah diajarkan banyak bersabar? Sabar saat
menunggu hujan berenti, sabar saat menunggu angkutan umum, dan saatnya untuk
sabar dalam keadaan macet.
Sudah
hampir dua puluh menit gue nunggu mobil, dengan menikmati setiap tetesan air
yang turun dari langit yang luas. Dan memperhatikan setiap kejadian disekitar
kita yang saat ini tidak pernah kita sadari bahwa ada beribu pelajaran
didalamnya. Dan akhirnya mobil yang ditunggupun datang. Hari itu masih hujan
rintik rintik. Ada satu pelajaran yang sudah sering kita lakukan namun tidak
pernah kita sadari. Saat diangkutan umum, saat semua bangku sudah penuh pelajaran
itu adalah tentang kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan, kita diuji karena kita
harus berdiri disepanjang perjalanan.
Setelah melihat
segala hal yang terjadi hari itu, kesimpulannya adalah gue mendapatkan apa yang
mungkin tidak didapatkan oleh mereka yang naik mobil pribadi. Mungkin mereka
bisa duduk manis dengan nyaman untuk pergi jalan jalan. Gaperlu keujanan dan
kecipratan air kayak gue atau mereka yang naik angkutan umum. Tapi mereka yang
naik mobil pribadi tidak akan bisa merasakan nikmatnya menunggu dengan
kesabaran, tidak akan bertemu dengan orang orang berwajah baru yang ramah
seperti ibu paruh baya, tidak akan melihat pengendara yang berani melawan lalu
lintas, tidak akan merasakan indahnya bersosialisasi dan pelajaran lainnya yang
tidak akan didapatkan disekolah.
Untuk itu,
mulai sekarang bukalah mata untuk lebih sering melihat setiap sisi dunia yang
belum diketahui, bukalah telinga untuk mendengar lebih banyak lagi isi dari
sebuah kehidupan dan cerita yang begitu pelan tak terdengar, dan bukalah hati
untuk bisa lebih merasakan setiap hal dari sebuah kehidupan dengan penuh cinta
yang tak terkalahkan.
‘
Novalda pertiwi ‘

